tentang syiah Mei 7, 2007
Posted by dzurriyah in Uncategorized.add a comment
[sunting] Etimologi
Istilah Syi’ah berasal dari kata Bahasa Arab شيعة Shī`ah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Shī`ī شيعي.
“Syi’ah” adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali شيعة علي artinya “pengikut Ali”, yang berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinat ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: “Wahai Ali kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung” (ya Ali anta wa syi’atuka humulfaaizun) [1]
Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.[2] Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama diantara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. [3] Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi’ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab. Kelompok ini terpecah menjadi lima sekte utama, yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah, Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya.[4]
[sunting] Ikhtisar
Muslim Syi’ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (para Imam Syi’ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur’an, Islam, Emulation (guru terbaik tentang Islam setelah Muhammad), dan pembawa serta penjaga terpercaya dari tradisi Sunnah Nabi Muhammad.
Secara khusus, Muslim Syi’ah mengakui Ali bin Abi Thalib (sepupu Muhammad, menantu, dan kepala keluarga Ahlul Bait) sebagai penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan Khalifah yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung dari Nabi Muhammad, dimana perintah Muhammad berarti wahyu dari Allah.
Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al Qur’an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.
Tanpa memperhatikan perbedaan tentang Khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Illahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi’ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.
[sunting] Doktrin
Dalam Syi’ah terdapat apa yang namanya ushuluddin (pokok-pokok agama) dan furu’uddin {masalah penerapan agama). Baik Sunni maupun Syi’ah memahami bahwa ushuluddin terdiri dari tiga bagian, yaitu ketuhanan, kenabian, kebangkitan. Kemudian Syi’ah lebih meluaskan tauhid (ketuhanan) pada ‘adl; dan nubuwwah pada imamah, yang sebenarnya bukan termasuk pokok agama baru. Syi’ah juga mengimani lima Rukun Islam yang diimani Sunni. Syi’ah memiliki Lima Prinsip Pokok teologi, dimana Sunni juga mengimani lima hal tersebut, yaitu:
- Tauhid, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa.
- Al-‘Adl, bahwa Allah SWT adalah Maha Adil.
- An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah pada keberadaan para nabi sama seperti muslimin lain. I’tikadnya tentang kenabian ialah:
- Jumlah nabi dan rasul Allah ada 124.000.
- Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad SAW.
- Nabi Muhammad SAW suci dari segala aib dan tiada cacat apa pun. Beliaulah nabi paling utama dari seluruh Nabi yang ada.
- Para istrinya bersih dan suci dari segala kotoran dan hal jelek.
- Al-Qur’an ialah mukjizat kekal Nabi Muhammad SAW.
- Al-Imamah, bahwa bagi Syi’ah berarti pemimpin urusan agama dan dunia, yaitu seorang yang bisa menggantikan peran Nabi Muhammad SAW sebagai pemelihara syariah Islam, mewujudkan kebaikan dan ketenteraman umat. Al-hadits yang juga diriwayatkan Sunni: “Para imam setelahku ada dua belas, semuanya dari Quraisy“.
- Al-Ma’ad, bahwa Syi’ah mempercayai kehidupan akhirat.
[sunting] Sekte dalam Syi’ah
Syi’ah terpecah menjadi 22 sekte [rujukan?]. Dari 22 sekte itu, hanya tiga sekte yang masih ada sampai sekarang, yakni:
[sunting] Dua Belas Imam
Disebut juga Imamiah atau Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam); dinamakan demikian sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Urutan imam mereka yaitu:
- Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
- Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
- Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
- Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
- Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
- Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
- Musa bin Ja’far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
- Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
- Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
- Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
- Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
- Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi
[sunting] Ismailiyah
Disebut juga Tujuh Imam; dinamakan demikian sebab mereka percaya bahwa imam hanya tujuh orang dari ‘Ali bin Abi Thalib, dan mereka percaya bahwa imam ketujuh ialah Isma’il. Urutan imam mereka yaitu:
- Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
- Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
- Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
- Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
- Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
- Ja’far bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
- Ismail bin Ja’far (721 – 755), adalah anak pertama Ja’far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.
[sunting] Zaidiyah
Disebut juga Lima Imam; dinamakan demikian sebab mereka merupakan pengikut Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum ‘Ali tidak sah. Urutan imam mereka yaitu:
- Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
- Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
- Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
- Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
- Zaid bin Ali (658–740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir.
[sunting] Kontroversi tentang Syi’ah
| Kenetralan sebagian atau keseluruhan artikel ini dipertentangkan. Silakan melihat pembicaraan di halaman diskusi artikel ini. |
Hubungan antara Sunni dan Syi’ah telah mengalami kontroversi sejak masa awal terpecahnya secara politis dan ideologis antara para pengikut Bani Umayyah dan para pengikut Ali bin Abi Thalib. Sebagian kaum Sunni menyebut kaum Syi’ah dengan nama Rafidhah, yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna meninggalkan.[5] Dalam terminologi syariat Sunni, Rafidhah bermakna “mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar bin Khattab, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para Sahabat Nabi“.[6]
Sebagian Sunni menganggap firqah (golongan) ini tumbuh tatkala seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba yang menyatakan dirinya masuk Islam, mendakwakan kecintaan terhadap Ahlul Bait, terlalu memuja-muji Ali bin Abu Thalib, dan menyatakan bahwa Ali mempunyai wasiat untuk mendapatkan kekhalifahan. Ia kemudian dianggap mengangkat Ali sampai ke tingkat ketuhanan, dan hal ini oleh sebagian kaum Sunni diakui dalam banyak kitab Syi’ah sendiri, walaupun cukup banyak pula di kitab Syi’ah yang menolak keras hal ini.
Namun terdapat pula kaum Syi’ah yang tidak membenarkan anggapan Sunni tersebut. Golongan Zaidiyyah misalnya, tetap menghormati sahabat Nabi yang menjadi khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib. Mereka juga menyatakan bahwa terdapat riwayat-riwayat Sunni yang menceritakan pertentangan diantara para sahabat mengenai masalah imamah Abu Bakar dan Umar.[7]
ahlulbait dalam al-quran Mei 7, 2007
Posted by dzurriyah in Uncategorized.add a comment
Ahlul Bait
Ahlulbait dalam Al-Quran
Al-Quran adalah sumber pemikiran, sumber hukum dan sumber segala kebajikan yang esensinya adalah kalam ilahi yang suci. Al-Quran adalah pola bagi hidup dan kehidupan seluruh umat manusia. Maka setiap muslim atau muslimah wajib mengetahui dan memahami bahwa Kitabullah itu adalah syari’ah dan risalah-Nya yang umat manusia harus merealisasikannya dalam hidup dan kehidupannya serta berjalan di atas petunjuk-Nya.
Banyak ayat Al-Quran yang menceritakan Ahlulbait atau keluarga Nabi yang disucikan yang antara lain seperti di bawah ini:
Surah Al-Ahzab:33
Dalam ayat ini Allah menyebut mereka Ahlulbait. Dia berfirman: “Innamâ yuridu l`llâhu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhirâ”. Yang artinya: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan al-rijs dari kamu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” (QS 33/33).
Imam Ja’far Al-Shadiq ditanya mengenai makna al-rijs yang terdapat pada ayat diatas. Beliau menjawab:
“Al-Rijsu itu adalah al-syakk (keraguan)”. (Ma’ani l`Akhbar).
Jika kita tidak taat kepada Allah dalam satu perkara, maka hal itu telah menunjukan kepada keraguan kita terhadap-Nya, semakin banyak ketidaktaatan kita kepadanya, maka semakin besar pula keraguan kita kepada-Nya. Ahlulbait yang disucikan itu sedikit pun tidak pernah ragu kepada-Nya, oleh karena itu tidak ada satu pun keburukan atau kemaksiatan yang mereka lakukan. Dan tidak adanya keraguan dari mereka, dikuatkan dengan pensucian sesuci-sucinya, yang demikian itu menunjukan bahwa mereka memiliki sifat ‘ishmah yang sangat kuat, mereka adalah orang-orang ma’shum (tidak melakukan dosa dan kesalahan).
Sebagian kaum muslim beranggapan bahwa tafsir ahlul`bayt yang terdapat pada ayat di atas adalah istri-istri Rasulullah saw, mereka menafsirkan demikian barangkali dikarenakan awal ayat tersebut ditujukan kepada istri-istri Nabi yaitu : “Dan hendaklah kamu (istri-istri Nabi) tinggal di rumah-rumah kamu, dan janganlah kamu bersolek seperti kaum jahiliah yang pertama, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah serta Rasul-Nya…”.
Tafsir seperti itu rasanya tidak benar karena kata ganti (personal pronoun, dhamir) bagi istri-istri Nabi dan untuk ahlulbait berbeda; untuk istri-istri Nabi dhamirnya mu`annats (feminine) sedangkan untuk Ahlulbait dhamirnya mudzakkar (masculine). Kedua mereka tidak memakai tafsir atau penjelasan dari Rasulullah dan para sahabatnya, padahal orang yang paling mengetahui tafsirnya adalah Nabi saw, dan Al-Quran telah memerintahkan kita untuk mengikuti beliau sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini (yang artinya): “Dan telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir”. (Al-Nahl 44).
“Dan tidak Kami turunkan Al-Kitab melainkan agar kamu jelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Al-Nahl 64).
“Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakan dan apa-apa yang dia larang maka tinggalkanlah, dan ber-taqwa-lah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya”. (QS 59/7).
“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Uli l`amri (para khalifah Rasulullah yang dua belas) dari kamu…”. (QS 4/59).
Kemudian siapakah Ahlulbait yang disebutkan dalam Al-Ahzab 33 menurut Nabi dan sebagian sahabatnya itu? Marilah kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini :
Ummu l`mu`minin Aisyah mengatakan : “Pada suatu pagi Rasulullah saw keluar dari rumah) dengan membawa kain berbulu yang berwarna hitam. Kemudian datang (kepada beliau) Hasan putra Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain); lalu datang Husayn lantas dia masuk bersamanya; kemudian datang Fathimah,lantas beliau memasukannya; kemudian datang Ali, lalu beliau memasukannya. Kemudian beliau membaca ayat : ‘Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan dari kalian wahai Ahlulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya’”. (Lihat Shahih Muslim bab fadha`il Ahli bayti l`Nabiyy; Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/147; Sunan Al-Bayhaqi 2/149 dan Tafsir Ibnu Jarir Al-Thabari 22/5).
Amer putra Abu Salamah – anak tiri Rasulullah – mengatakan : “Ketika ayat ini (innama yuridu l`llahu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhira) diturunkan di rumah Ummu Salamah, beliau memanggil Fathimah, Hasan dan Husayn sedangkan Ali as. berada di belakang beliau. Kemudian beliu mengerudungi mereka dengan kain seraya beliau berdoa : ‘Ya Allah mereka ini ahlulbaitku maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya’. Ummu Salamah berkata: ‘Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?’ Beliau bersabda :
‘Engkau tetap di tempatmu, engkau dalam kebaikan’”. (Al-Turmudzi 2:209, 308 ; Musykilu l`Atsar 1:335;
Usudu l`Ghabah 2:12; Tafsir Ibni Jarir Al-Thabari 22: 6-7).
Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw. telah mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husayn, Ali, Fatimah lalu beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini Ahlulbaitku dan orang-orang terdekatku, hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya,”. Kemudian Ummu Salamah berkata: “Aku ini bersama mereka wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan”. (HR Al-Turmudzi 2:319).
Anas bin Malik telah berkata : “Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah ‘alayha l`salam selama enam bulan, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya’”. (HR Al-Turmudzi 2 : 29).
Itulah beberapa kesaksian dari beberapa kitab rujukan bahwa Ahlulbait dalam surah Al-Ahzab itu bukan istri-istri Nabi saw melainkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn sekalipun ayat tersebut digabungkan penulisannya dengan ayat yang menceriterakan istri-istri Nabi saw sebab di dalam Al-Quran mushhaf ‘utsmani ini terkadang dalam surah makkiyyah terselip di dalamnya beberapa ayat madaniyyah atau sebaliknya atau satu ayat mengandung dua cerita seperti pada ayat diatas dan tentu para ulama telah maklum adanya.
Surah Al-Syura:23
Ketika orang-orang musyrik berkumpul di satu tempat pertemuan mereka, tiba-tiba berkatalah sebagian dari mereka kepada yang lainnya : Apakan kalian melihat Muhammad meminta upah atas apa yang dia berikan ? Kemudian turunlah ayat : “Katakanlah aku tidak meminta upah dari kalian selain kecintaan (mawaddah) kepada al-qurba”. (Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf).
Kemudian beliau berkata: Telah diriwayatkan ketika ayat tersebut turun bahawa ada orang yang bertanya:
Wahai Rasulullah, siapakah kerabatmu yang telah diwajibkan atas kami mencintai mereka? Beliau menjawab: “Mereka itu adalah Ali, Fathimah dan kedua putranya (Hasan dan Husayn)”.
Ayat tersebut di atas telah mewajibkan seluruh manusia untuk mencintai (mengikuti) keluarga Nabi atau Ahlulbait dan mencintai mereka merupakan dasar di dalam ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda (yang artinya): “Segala sesuatu ada asasnya dan asas Islam adalah mencintai Ahlulbaitku”. (Hadits yang mulia). Dan jika kita membenci mereka maka amal baik kita akan menjadi sia-sia dan kita masuk neraka. Sabdanya :
“Maka seandainya seseorang berdiri (beribadah) lalu dia salat dan saum kemudian dia berjumpa dengan Allah (mati) sedangkan dia benci kepada Ahlulbait Muhammad, niscaya dia masuk neraka.” Al-Hakim memberikan komentar terhadap sabda Nabi ini sebagai berikut: “Ini hadits yang baik lagi sah atas syarat Muslim”. ( Kitab Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/148).
Surah Ali ‘Imran:61
Ayat ini disebut sebagai ayat mubahalah karena di dalamnya ada ajakan untuk ber-mubahalah dengan para pendeta nasrani. Adapun terjemahannya: “Siapa yang menbantahmu tentang dia (Al-Masih) setelah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah (kepada mereka): Marilah, kami memanggil anak-anak lelaki kami dan (kamu memanggil) anak-anak lelaki kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu
dan diri-diri kami serta diri-diri kamu, kita bermubahalah dan kita tetapkan laknat Allah atas
mereka yang berdusta”.
Saksi sejarah yang hidup dan kekal yang diriwayatkan ahli-ahli tarikh dan tafsir telah memberikan kejelasan kepada khalayak akan kesucian keluarga Nabi saw yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Ayat tersebut menunjukan betapa agungnya kadar dan kedudukan mereka di sisi Allah ‘azza wa jalla.
Diantara kasus yang disampaikan para muarrikh, mufassir dan muhaddits ialah peristiwa mubahalah, yaitu ketika datang utusan dari masyarakat keristen Najran untuk membantah Rasulullah—shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam—kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas agar beliau memanggil Ali, Fathimah. Hasan dan Husain. Beliau keluar membawa mereka ke lembah yang telah ditentukan dan para pemimpin keristen pun membawa anak-anak dan perempuan-perempuan mereka.
Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf berkata : “Sesungguhnya ketika mereka diseru untuk bermubahalah mereka mengataakan : ‘Nanti akan kami pertimbangkan terlebih dahulu’. Tatkala mereka berpaling (dari mubahalah) berkatalah mereka kepada Al-Aqib—yang menjadi juru bicara mereka : ‘Wahai hamba Al-Masih, bagaimanakah menurutmu?’ Dia berkata: Demi Allah, kalian juga tentu mengetahui wahai umat nasrani bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul. Dia datang kepadamu membawa penjelasan mengenai Isa (Yesus). Demi Allah tidak ada satu kaum pun yang mengadakan mubahalah dengan seorang Nabi lalu mereka hidup. Dan jika kalian melakukan mubahalah dengannya niscaya kalian semua pasti binasa, dan apabila kalian ingin tetap berpegang kepada ajaran kalian maka tinggalkan orang tersebut dan pulanglah ke kampung halaman kalian”.
Keesokan harinya Nabi saw datang dengan menggendong Husayn dan menuntun Hasan dan Fathimah berjalah di belakang beliau sedang Ali berjalan di belakang Fathimah. Nabi bersabda : “Bila aku menyeru kalian maka berimanlah !”. Melihat Nabi dan Ahlulbaitnya, berkatalah uskup Najran : “Wahai umat keristen, sungguh aku melihat wajah-wajah yang sendainya mereka berdoa kepada Allah agar Dia (Allah) menghilangkan sebuah gunung dari tempatnya pasti doa mereka akan dikabulkan, oleh karena itu tinggalkan mubahalah sebab kalian akan celaka yang nantinya tidak akan tersisa seorang keristen pun sampai hari kiamat”.
Akhirnya mereka berkata : “Wahai Abul Qasim, kami telah mengambil keputusan bahwa kami tidak jadi bermubahalah, namun kami ingin tetap memeluk agama kami.” Rasul bersabda : “Jika kalian enggan mubahalah maka terimalah Islam bagi kalian dan akan berlaku hukum atas kalian sebagai mana berlaku atas mereka (muslimin yang lain).”
Kemudian Al-Zamakhsyari–rahimahu l`llah–menjelaskan kedudukan Ahlulbait ketika menafsirkan ayat mubahalah, setelah dia menjelaskan keutamaan mereka melalui riwayat dari Aisyah dengan mengatakan : “Diantara mereka ada yang diungkapkan dengan anfusana (diri-diri kami); ini adalah untuk mengingatkan akan tingginya kedudukan mereka dan ayat ini adalah dalil yang sangat kuat dari-Nya atas keutamaan ashhabu l`kisa` (Ahlulbait)—‘alayhimu l`salam”. Pertunjukan mubahalah yang tidak terjadi itu telah
menampilkan dua kekuatan yaitu iman versus syirik, dan manusia-manusia mukmin yang tampil waktu itu (Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn) adalah para tokoh petunjuk, umat terkemuka dan orang-orang suci. Seruan mereka tidak boleh dibantah dan kalimat mereka tidak boleh didustakan. Dari sini kita dapat memahami bahwa apa-apa yang datang dari mereka baik pemikiran, syari’ah, tafsiran, petunjuk maupun pengarahan adalah berlaku; mereka adalah orang-orang yang benar dalam ucapannya, perjalanan hidupnya dan tingkah lakunya.
Al-Quran telah menganggap setiap yang berlawanan dengan mereka adalah musuh-musuh, dan menjadikan musu-musuh mereka sebagai orang-orang yang berdusta serta berpaling dari kebenaran yang sepantasnya mendapat laknat dan azab. “…maka kami jadikan laknat Allah atas mereka yang berdusta.”
Dan juga dari segi bahasa yang sangat dalam pada ayat tersebut yang harus kita perhatikan, yakni ketika mereka disandarkan kepada Nabi. Hasan dan Husayn disebut sebagai “anak-aknak kami”, Fathimah sebagai perempuan-perempuan kami” dan Ali sebagai “diri-diri kami”. Di sini Imam Ali disandarkan kepada diri Nabi yang suci.
Sesungguhnya Rasulullah—shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam–hanya mengeluarkan empat orang ke arena mubahalah, ini berarti memberikan penjelasan kepada kita bahwa Fathimah Al-Zahra`–‘alayha l`salam–perempuan pilihan yang harus diteladani umat manusia; Imam Hasan dan Imam Husayn—‘alayhima l`salam–adalah anak-anak umat yang wajib kita taati sedangkan Iamam Ali–‘alayhi l`salam–adalah dianggap diri Nabi sendiri.
Ahlulbait dalam Sunnah Nabi saw
Orang yang membaca sunnah-sunnah Nabi saw, perjalanan hidupnya dan memperhatikan hubungannya dengan Ahlulbaitnya yang telah ditegaskan di dalam Al-Quran yakni Ali, Fathimah adan kedua putranya, pasti dia mengetahui bahwa Ahlulbait Nabi mempunyai tanggung jawab risalah dengan umat ini. Rasulullah saw telah menggariskannya untuk umat agar mereka menerimanya sebagai perinyah dari Allah ‘azza wa jalla.
Langkah pertama yang ditempuh Nabi saw ialah melaksanakan perintah Allah, yaitu menikahkan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau menanam pohon yang diberkati agar cabang-cabangnya menjangkau segala ufuk umat ini di sepanjang sejaarahnya.
Tentang pernikahan itu Nabi bersabda kepada Imam Ali—salam atasnya : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku agar aku menikahkanmu kepada Fathimah dengan mahar empat mitsqal perak jika engkau rela dengan yang demikian.” Dia berkata: “Aku rela dengan yang demikian.”
Dari pernikahan yang diberkati itu lahir Imam Hasan dan Imam Husayn. Dan dari sulbi Imam Husayn lahir sembilan Ahlulbait Nabi yang suci. Dzurriyyah (keturunan) Nabi melalui sulbi Imam Ali as sebagaimana yang beliau katakan : “Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan setiap nabi dari sulbinya, tetapi dzurriyyahku dari sulbi orang ini yakni Ali.”
Cerita Ahlulbait Nabi saw dalam sunnahnya lebih banyak lagi, baik tentang Fathimah sebagai sayyidatu nisa` l`’alamin, pengangkatan Ali sebagai khalifah Nabi yang pertama, Ahllulbait sebagai padanan Al-Quran, kedudukan mereka, dua belas imam maupun yang lainnya. Di sini kita ceritakan dua hal saja, yaitu yang paling mengikat: Ahlulbait sebagai bahtera keselamatan dan Ahlulbait padanan Al-Quran.
Bahtera Keselamatan
Abu Nuaym telah meriwayatkan hadits yang sanadnya dari Sa’id bin Jubayr dari Ibnu Abbas dia berkata bahwa Rasulullah saw telah mengatakan : “Perumpamaan Ahlulbaitku pada kamu adalah semisal bahtera Nuh—‘alayhi l`salam—barangsiapa yang mengikutinya pasti selamat dan yang berpaling darinya pasti dia tenggelam.” Hadits Nabi ini diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 2/343. Dia berkata : Hadits ini sah berdasarkan persyaratan Muslim. Pesan dari sunnah Nabi ini ialah bahwa kita hanya akan
selamat jika mengikuti Ahlulbait Nabi yang disucikan.
Padanan Al-Quran
Ahlulbait telah dijamin kesuciannya, mereka yang menjaga tafsir Al-Quran dan sunnah-sunnah Rasul, mereka yang menjaga kesucian ajaran Islam dari penambahan dan pengurangan, dari bid’ah, khurafat dan takhayyul.
Supaya umat tidak tersesat, maka Rasulullah saw berpesan kepada manusia agar tida tersesat jalan, sabdanya : “Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kamu yang apabila kamu berpegang dengannya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah dan ‘itrahku Ahlulbaitku.” (HSR Al-Turmudzi 2/308).
Ahlulbait Dikenal Umat Terdahulu
Ahlulbait telah dikenal oleh umat-umat terdahulu, antara lain oleh Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa—salam atas mereka. Nabi Adam –salam atasnya–telah bermohon kepada Allah dengan hak mereka. Ibn Abbas telah berkata : “Saya telah bertanya kepada Rasulullah saw tentang kalimat-kalimat yang telah diterima Adam dari Rabb-nya hingga Dia menerima taubatnya. Nabi saw bersabda : “Dia telah bermohon (kepada Allah) : Dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn terimalah taubatku, lalu Dia menerima taubatnya”. (Al-Durr al-Mantsur ketika menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla : “fatalaqqa ‘Adamu min Rabbihi kalimat,” (QS.
Al-Baqarah 37), baca juga kitab Kanzu l`‘Ummal 1:234.
Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya. Mohammad, Ali, Hassan, Hossain, Fatema.
Pada bulan Juli tahun 1951, sebuah team riset Rusia di sekitar gunung Judi di perbatasan Uni Soviet dan Turki secara tidak sengaja, mereka menemukan beberapa kuburan tumpukan kayu-kayu yang telah bobrok yang terssusun secara luar biasa. Di antara tumpukan kayu tersebut ditemukan satu plat kayu yang berukuran sekitar 10 x 14 inci. Pada palat kayu tersebut terukir beberapa kalimat dalam bahasa kuno yang sudah tidak dikenal. Pada tahun 1953 pemerintah Uni Soviet menunjuk sebuah komisi peneliti yang terdiri dari tujuh orang ahli (untuk meneliti penemuan tersebut), mereka menyimpulkan bahwa tumpukan kayu itu adalah bagian bahtera Nabi Nuh—‘alayhi l`salam–yang terkenal itu. Dan kata-kata yang terukir pada plat kayu adalah kata-kata dari bahasa Samani, yaitu suatu bahasa yang sudah sangat tua. Kata-kata tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Inggris oleh Prof. N.F. Thomas, seorang ahli bahasa-bahasa kuno dari Manchester, Inggris.
Pada plat kayu itu terdapat ukiran telapak tangan dengan lima jari. Pada kelima jari tersebut terdapat tulisan masing-masing: Muhammad, Ali, Hasan (syabar), Husayn (Syubayr), dan Fathimah. (Di bawahnya terdapat doa tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mereka): “Wahai Tuhanku, wahai penolongku, aku berdoa dengan kemurahan-Mu melalui tubuh-tubuh suci yang Engkau ciptakan, mereka terbesar dan termulia, tolonglah aku melalui nama mereka, engkaulah yang mendatangkan cahaya”.
Plat kayu itu sekarang terpelihara dengan aman pada Museum Arkeologi dan Riset, Moscow, Uni Soviet. (Sumber : The Bulletin of The Islamic Center “UNDER SIEGE” P.O. BOX 32343 Wahington D.C. N.W. 20007 Vol. 7 No. 10 Rabi al-Awwal 6, 1408/Oktober 30,1987)
Pada zaman Nabi Musa ‘alayhi l`salam, ketika Bani Isra`il diperintahkan Allah untuk mencari lembu betinadan mereka sangat rewel menerima perintah tersebut hingga akhirnya mereka merasa kesulitan dalam pencariannya sebab sapi betina itu sifat-sifatnya harus kuning langsat yang elok dipandang mata, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, tidak ada belangnya sedikit pun dan belum pernah digunakan untuk membajak tanah. Kemudian sapi tersebut mereka temukan namun harganya sangat mahal karena memang sapi betina
tersebut tidak akan dijual. Akhirnya mereka kumpulkan harta untuk membayarnya. Setelah itu Bani Isra`il jatuh miskin dikarenakan hartanya habis dipakai membayar lembu betina, lantas mereka protes kepada Nabi Musa as.
Kemudian Nabi Musa—‘alayhi l`salam—berkata kepada mereka : “Jahil kamu, alangkah butanya hati-hati kamu tidakkah kamu dengar doa pemuda yang punya lembu betina itu dan kekayaan yang diwarirkan Allah ta’ala kepadanya ? Tidakkah kamu dengar doa orang yang dibunuh yang digergaji yang dikaruniai usia panjang dan kebahagiaan serta kenikmatan dengan inderanya ? Mengapa kamu tidak berdoa semisal doa tawassul mereka agar Dia menutup kemiskinan kamu ?”. Kemudian mereka mengatakan (dalam doanya) : “Ya Allah, kepada-Mu kami berlindung dan kepada karunia-Mu kami bersandar, maka hilangkanlah kemiskinan kami dan tutuplah kebutuhan kami dengan keagungan Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn dan orang-orang yang baik dari keluarga mereka.” Kemudian tidak lam
kedudukan ahlulbait Mei 6, 2007
Posted by dzurriyah in Uncategorized.add a comment
sekarang di indonesia banyak yang menolak,mendemo,menyerang islam syiah padahal mereka damai dan karena itu banyak yang masuk syiah orangn syiah tidak salah dan dalilnya masuk akal
Sabda Rasul :
“Aku berdamai pada mereka yang berdamai pada kalian (ahli bait), Aku berperang pada mereka yang memerangi kalian (ahli bait)”
Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda :
“Berdamai padaku yang berdamai pada kalian (ahli bait), memerangi aku yang memerangi kalian (ahli bait)”
Kedua hadits diatas menggambarkan rasulullah secara demonstratif menampakkan sikap tegasnya dalam membela ahli bait beliau as. Terkadang pembelaannya itu dengan mewajibkan orang-orang yang mencintai beliau saww dengan kecintaan pada ahli bait as. Suatu hal yang mengisyaratkan pada ummat yang hidup dimasa beliau saww. Adapun sepeninggal beliau, ummat harus merujuk kepada ahli bait as. Dalam hadits kedua rasulullah memastikan bagi siapa saja yang hidup sepeninggalnya dan yang mencintai ahli bait as. Akan dicintai beliau saww.
Kedekatan Rasulullah saww. dengan ahli bait as. Kemudian oleh sebagian kaum muslimin dipandang sebagai hubungan emosional kekeluargaan. Namun kedangkalan pandangan ini terbantah oleh al-Qur’an yang dengan tegas menyebutkan seluruh sikap dan tindakan serta ucapan Rasul senantiasa dituntun oleh wahyu, bukan dengan emosi. Sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan tiada perkataannya berdasarkan hawa nafsunya melainkan wahyu yang disampaikan”
Hingga jelas hikmah yang tercermin dari kedua sabda rasul tentang ahli bait as. Nantinya. Pada dasarnya rasul telah mensinyalir sikap ummat terhadap ahli bait as. dengan sikap negatif, yang akan berakibat hilangnya tujuan kehidupan manusia itu sendiri. Dalam pada itu Rasul hendak menjelaskan falsafah terdalam dari tujuan penciptaan oleh Allah SWT. Yakni mencintai ahli bait beliau saww. Firman Allah SWT:
“Katakanlah (wahai Muhammad) aku tiada meminta upah (atas jerih payah da’wahku) kecuali kecintaan pada keluarga (ahli bait)” (QS : 42 ; 23)
Hukum Kausalitas (Hukum sebab-akibat)
Realitas kehidupan menunjukkan akal manusia senantiasa terdorong untuk memahami sebab dari setiap fenomena alam ini. Para filosof dan ahli logika membagi sebab dari setiap kejadian menjadi empat. Dengan melalui contoh Ibrah karya tulis yang muncul dari sebab-sebab tertentu.
Pertama, akal memahami karya tulis tersebut muncul oleh sebab adanya penulis – sebab demikian, disebut dengan sebab pelaku. Akal senantiasa menolak bila karya tulkis muncul tanpa ada yang menuliskannya.
Kedua, dengan isi dan sistematika tulisan, akal memahami kedalaman pengetahuan Penulis yang sebelum menulis karya tulisnya muncul lebih dahulupada benak penulis. Sebab demikian disebut dengan sebab image atau sebab gambaran. Yaitu Ibrah dalam benak penulis yang dengannya si penulis disebut memiliki pengetahuan. Akal menolak, Penulis tidak mengetahui karya tulisnya yang sarat dengan pengetahuan ilmiah.
Ketiga, Karya tulis tersebut menampakkan tujuan si penulis yang disebut dengan sebab tujuan penulisan. Akal menolak karya tulis yang penuh dengan nilali-nilai ilmiah itu, sibuat tanpa tujuan dari si penulis. Kelaziman dari sebab ketiga ini yang akan menjadi bahan kajian dalam bab kedua tulisan ini. (lihat ibrah : merenung).
Keempat, Dengan adanya kertas, pena dan tinta maka terpenuhilah persyaratan sebab munculnya karya tulis tersebut, yang demikian disebut dengan sebab materi. Akal menolak, tanpa adanya wujud-wujud materi ini tulisan bisa muncul, melalui sebab materi ini akal manusia dapat mengerti sebab-sebab fenomena (kejadian).
Keempat sebab diatas – pelaku, image, tujuan dan materi – yang memunculkan akibat dapat diberlakukan dalam setiap fenomena/ kejadian alam ini. Sifatnya yang senantiasa unik dengan kaidah yang sama disebut dengan hukum kausalitas (sebab-akibat) atau sunatullah.
Firman Allah :
“Dan tiada engkau dapati dalam sunatullah terjadi perubahan” (QS : 33 : 62)
Dengan demikian sunatullah ini memberikan penghormatan pada akal manusia sehingga dapat difikirkan, dimengerti dan dimanfaatkan memberi dalam kehidupan. Jika tidak, niscaya manusia tidak dapat mengerti apapun dan tentunya tidak dapat berbuat sesuatu apalagi mengambil manfaat dari kehidupan. Karenanya sunatullah adalah perwujudan karunia ilahiyah yang besar dalam kehidupan ini, bagi yang mampu memanfaatkan.
Tujuan Penciptaan dan Determinisme
Pada sebab ketiga diatas, telah menampakkan ketidak mungkinan wujud tanpa tujuan, namun guna mendapatkan ketegasan Allah berfirman :
“Dan dalam segala sesuatu terdapat sebab-sebab dan ikutilah sebab-sebab tersebut” (QS: 18 : 85)
Bila karya tulis telah menunjukkan adanya tujuan penulisan – bagaimana dengan penciptaan alam semesta ini, adakah hal ini juga menghantarkan pengenalan pada tujuan Allah SWT? Sebagaimana contoh yang tampak pada pertumbuhan biji menjadi tunas, tunas menjadi pohon dan puncaknya pohon tersebut berbuah. Fenomena yang menampakkan tujuan yang kian kuat dan sempurna. Juga pada pertumbuhan janin dalam rahim seorang ibu menampakkan keadaan yang berproses dari keadaan lemah menjadi kuat da sempurna – seluruhnya menampakkan tujuan Allah dalam penciptaan-Nya. Melalui merenung seseorang dapat merasakan keadaan jiwa, sebagaimana diisyaratkan dalam al-Qur’an:
Allah berfirman :
“Dan didalam penciptaan langit dan bumi, perubahan siang dan malam terdapat tanda-tanda (ibrah) bagi ulil albaab, yaitu mereka yang merenungkan penciptaan Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Mereka berkata “Subhanallah” Maha Suci Allah, tiada Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maka jauhkanlah kami dari siksa neraka” (QS: 3:190-191)
Tujuan Kesempurnaan
Berbagai kemungkinan dari setiap tujuan penciptaan ada dua yaitu : kesempurnaan atau kehancuran. Kedua tujuan ini bersifat mungkin. Kemungkinan menjadi mustahil jika jelas pada karakter dan sifat-sifat pelakunya, dalam hal ini Allah SWT. Menghancurkan atau melemahkan hanya terjadi pada mereka yang bersifat takut. Takut akan akibat perubahan masa dan kekuasaan, takut atas pesaing, takut lawan yang merongrong kekuasaannya. Kemungkinan tujuan menghancurkan itu muncul dari keinginan pengakuan atau justifikasi terhadap eksistensi Diri-Nya. Hal yang terbantah karena Dia tidak membutuhkan segala sesuatu tetapi segala sesuatulah yang membuthkan-Nya. Sehingga untuk justifikasi semacam ini mustahil bagi-Nya. Hal itu dalam studi kemungkinan tujuan menghancurkan atau menyempurnakan. Kemungkinan lain karena terdapat sifat buruk yang tak jelas kehendak-Nya. Maha Suci Allah dari memiliki sifat buruk sehingga tidak terdapat sedikitpun tanda bagi-Nya melakukan praktek tersebut dalam ciptaan-Nya. Dan kemungkinan terakhir adalah tujuan kehancuran disebabkan oleh ketersinggungan akan muncul karena dua alasan yang tak dapat diterapkan dan diterima akal manapun. Yaitu tersinggung oleh siapa dan akibat apa Dia tersinggung sehingga membuat dendam terhadap makhluk-Nya sendiri. Dari keempat kemungkinan tujuan menghancurkan :
Saingan
Justifikasi / pengakuan
Memiliki sifat buruk
Tersinggung
Tidak mendapatkan posisi pembenarannya dari tujuan penciptaan-Nya. Sehingga satu alternatif yang pasti dan menjadi tujuan Dia mencipta adalah, penyempurnaan.
Bagi siapa tujuan kesempurnaan ditujukan
Bagi siapa kesempurnaan itu dimaksudkan. Sedangkan selain Dia adalah makhluq-Nya. Terdapat berbagai kemungkinan sbb:
Kesempurnaan itu ditujukan bagi Diri-Nya
Seseorang akan menjadi sempurna jika tampak padanya pekerjaan kesempurnaan yang dillakukannya, dengan alasan itu disebutdirinya sempurna. Pekerjaan sempurnalah yang telah menyempurnakan manusia. Adakah bagi Allah juga demikian, pekerjaan menciptakan makhluknya adalah dengan tujuan kesempurnaan menjadikan Dia yang sebelumnya tidak sempurna menjadi sempurna oleh hasil pekerjaan-Nya sendiri. Pemikiran demikian menampakkan Dia membutuhkan sesuatu yang dalam hal ini adalah pekerjaan-Nya sendiri. Maha Suci Allah dari membutuhkkan segala sesuatu. Dia yang Maha Sempurna yang kesempurnaan-Nya tidak membutuhkan kesempurnaan lagi. Kesempurnaan yang tidak dapat dibandingkan oleh kesempurnaan apapun. Selain Dia – butuh penyempurnaan. Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan pada-Nya.
Kesempurnaan bersama, bagi Dia dan makhluq-Nya
Bila kesempurnaan ditujukan bagi keuntungan bersama, hal inipun tetap terbantah oleh argumentasi rasional sebagaimana dalam kemungkinan pertama. Hal ini muncul oleh pikiran manusia yang menghubungkan hubungannya dengan Tuhan sebagaimana hubungan sosial. Disadari atau tidak pandangan demikian muncul pada mereka yang dikotomis terhadap nilai-nilai individu dan nilai-nilai sosial, sehingga tak jarang bagi seseorang merasa telah memberikan kepuasan bagi Allah dengan amal ibadah dan sosialnya dihadapan Allah. Yang demikian itu karena memandang Allah perlu (butuh), walau sedikit darinya. Juga dapat timbul dalam diri yang memandang tugas-tugas agama adalah beban yang timbul dari kepentingan Tuhan di bumi ini. Dan banyak lagi yang dapat menjelaskan praktek jiwa kerdil terhadap amalan manusia seperti ini.
Kesempurnaan semata-mata untuk makhluk-Nya
Akhir yang dapat dimungkinkan adalah tujuan dari kesempurnaan penciptaan Allah SWT semata-mata bagi makhluq-Nya. Dimana dalam aktualisasinya seseorang beribadah pada Allah bukan untuk Allah dan tidak sebagian kecilpun Allah diuntungkan dengan ibadah yang mereka lakukan, tetapi keuntungan didapat bagi manusia itu sendiri. Juga halnya dengan pengingkaran tidak sedikitpun telah menjadikan Allah SWT rugi atas pengingkaran manusia itu sendiri.
Kebebasan dan Keterpaksaan
Dalam mazhab Asy’ari ketika menjelaskan aturan kesempurnaan ini tidak mendukung kesimpulan diatas, sehingga aqidahnya menampakkan penyimpangan terhadap tujuan kesempurnaan bagi makhluq Allah SWT. Aqidah yang mengilhami pandangan umumnya ahlussunnah wal jama’ah dilandasi oleh hadits yang terdapat dalam shahih Bukhari IV hadits ke 1775 hal : 80 sebagai berikut :
” Dari Abdullah ra. Katanya: Bercerita kepada kami rasulullah saw. Seorang yang benar dan dibenarkan. Beliau bersabda “Seseorang kamu ditempatkan selama empat puluh hari dalam peranakan ibu (berupa benda cair) kemudian menjadi segumpal darah, selama itu pula, dan segumpal daging, selama itu pula. Lalu Tuhan melalui malaikat menuliskan rezekinya, ajalnya, malang (celaka) dan mujur (bahagia), kemudian dihembuskan roh (jiwa) kedalamnya. Maka demi Allah sesungguhnya seseorang mengerjakan pekerjaan ahli neraka, sehingga antara dia dan neraka hanya berjarak sehasta atau sedepa. Lalu didahului oleh kitab (nasib)-nya, maka dikerjakannya pekerjaan ahli surga dan karenanya ia masuk surga. Sesungguhnya seseorang mengerjakan pekerjaan ahli surga, sehingga sehingga antara dia dan surga hanya berjarak sehasta atau sedepa. Lalu didahului oleh kitab (nasib)-nya, maka dikerjakannya pekerjaan ahli neraka dan karenanya ia masuk neraka”.
Asy’ari dalam pandangannya tampak meniadakan nilai tertinggi dari karunia Allah pada manusia yaitu ikhtiar (kehendak bebas) dalam diri manusia. Pekerjaan apapun yang dilakukan manusia tidak lagi berarti. Yang secara tidak langsung Asy’ari mengatakan kebebasan Allah untuk melakukan kehendak telah memasung manusia seperti robot yang tidak bernilai. Robot dengan pengertian, karena rezki, ajal, dan nasibnya telah dalam ketetapan baku yang tak berubah, sehingga do’a-do’a dipandang sebagai upaya mempengaruhi Allah atas ketetapan yang telah dibuat-Nya.
Pandangan Asy’ari terbantah dengan sendirinya dengan seorang mursal yang berkata saya mursal karena menta’ati ketetapan Allah yang diberlakukan pada dirinya. Hukum-hukumpun menjadi mandul dan sorga neraka menjadi kehilangan nilai – serta anjuran berbuat baik pada manusia tak dapat diterapkan pada pemikiran ini.
Bila sedilkit diperhatikan untuk mengenali memotivasi dari pendiriannya, tampak dengan kehendak mempertahankan kekuasaan tiran dimasa itu guna mendapat justifikasi agama dalam menutupi sikap lalimnya dihadapan mereka yang lemah. Aqidah yang menguntungkan para tiran untuk menindas. Mereka seolah berkata “kekuasaan ini adalah nasib mujur yang diberikan Allah padanya dan penderitaan rakyat adalah nasib burujk yang harus diterima karena ketetapannya juga”. Allah dalam pandangan Asy’ari tidak lagi bersih – tangan allah berlumuran dosa dengan membela penguasa yang menindas. Maha Suci Allah dari semua itu. Dia yang lebih dikenal dengan Tuhan yang melindungi mereka yang mustadh’’fin (orang-orang tertindas).
Aqidah Asy’ari ini yang kemudian dirumuskan dalam rukun Iman keenam yang sangat terkenal dengan:
“Dan segala baik dan buruk datang dari sisi Allah”
Dengan sebuah ayat seluruhnya pandangan Asy’ari telah terbantah – kejahatan menjadi tampak nyata posisinya – dan hancur seluruh kebathilan ucapan-ucapan bathilnya.
Firman Allah :
“Dan apa yang baik menimpamu datang dari sisi Allah SWT. Dan apa yang buruk menimpamu datang dari dirimu sendiri” (QS: 4:47)
Sementara kaum mu’tazilah dengan kontroversial menolak pandangan Asy’ari yang telah berposisi dalam titik ekstrem lainnya. Kaum mu’tazilah ini meyakini kebebasan manusia berikhtiar. Namun dalam pada itu mereka secara tidak langsung menolak pentadbiran (pengelolaan Allah SWT). Dengan anggapan bahwa manusia yang Allah ciptakan telah diberi sarana, yang dengan itu Allah tidak lagi memerankan apapun dalam kebaikan dan keburukan yang dikerjakan manusia. Secara sadara atau tidak, aliran ini menjadikan akal mereka sebagai tuhanya sendiri, dengan menganggap – terdapat posisi (tempat dan waktu) dimana Allah tidak sedikitpun berperan kecuali pada awalnya saja dan tidak kemudian. Maha suci Allah dari sikap yang tidak peduli seperti itu.
Mazhab Ahli Bait
Sabda Imam Ali as.:
“Segala puji bagi Allah yang keadaan-Nya yang satu tidak mendahului keadaan-Nya yang lain, maka tiadalah Dia (menjadi) yang awal sebelum Dia menjadi yang akhir, atau yang dzahir sebelum yang bathin. Semua yang disebut satu selain Dia adalah sedikit. Semua yang disebut mulia selain Dia adalah hina. Semua yang kuat selain Dia adalah lemah. Semua pemilik selain Dia adalah termiliki. Semua yang berkuasa selain Dia adakalanya berkuasa adakalanya tak berdaya. Semua yang mendengar selain Dia adalah tuli terhadap suara-suara yang lembut, amat keras, atau amat jauh dari tempatnya. Semua yang melihat selain Dia adalah buta terhadap warna-warna, amat lemah, ataupun benda-benda lembut. Semua yang dzahir selain Dia adalah bathin dan semua yang bathin selain Dia tidak mungkin bersifat dzahir. Tidak diciptakan-Nya makhluq-Nya dengan tujuan memperteguh kekuasaan atau karena ketakutan akan akibat-akibat (pergantian) zaman atau demi membantu melawan tandingan yang memerangi, atau seluruh yang berbangga akan kekayaan, atau musuh menantang dengan besarnya kekuatan. Mereka semua adalah makhluk-makhluk-Nya yang diperhambakan atau budak-budak-Nya yang hina dina. Tiada Ia mendiami sesuatu sehingga dapat disebut Ia ada disana, atau Ia berpisah dari sesuatu sehingga dapat disebut Ia tak ada disana. Tiada menyulitkan bagi-Nya penciptaan yang dimulainya ataupun pengaturan apa saja yang telah selesai dibuat-Nya. Tiada pernah Ia diliputi ketidakmampuan dalam segala yang diciptakan-Nya dan tidak pernah Ia memasuki kebimbangan tentang apa saja yang dilaksanakan-Nya. Semua itu bersumber pada ketetapan-Nya yang amat teliti. Pengetahuan-Nya yang amat tepat dan urusan yang terikat kuat. Dialah yang didambakan oleh setiap bencana yang mencekam, dan dari Dialah diharapkan datangnya segala kenikmatan”. (Nahjul Balaghah I : 64)
Ucapan Imam Ali as. yang mengilhami pandangan mazhab Ahli Bait dengan perbuatan baik itu muncul atas keterpaduan ikhtiar manusia dan pertolongan Allah sebagai penentu kebaikan. Sedangkan hilangnya pertolongan Allah pada diri manusia yang menyebabkan perbuatan manusia itu buruk (hilangnya nilai ataupun esensialnya). Dalam menjelaskan hal itu, Allah tetap dalam posisi yang muutlak kebebasan-Nya, dan ikhtiar manusiapun memiliki nilai sebagai karunia ilahiyyah yang diberikan pada manusia. Dalam pada itu doa, aturan, hukum serta muamalah manusia memiliki eksistensi yang dihormati dalam kehidupan. Dalam pada itu Allah tetap mengelola ummat manusia, mengawasinya dan menolongnya, yang keseluruhan perbuatan Allah tidak membuat Dia menjadi terikat ataupun tergantung.
Firman Allah :
“Dan berbuat baiklah kalian sebagaimana Allah telah berbuat baik pada kalian”
(QS : al-Qashosh 28 : 77)
Allah adalah contoh utama dalam melakukan setiap perbuatan baik-Nya. Dari ucapan Imam Ali as. ” Semua yang dzahir selain Dia adalah bathin dan semua yang bathin selain Dia tidak mungkin bersifat dzahir”. Menampakan tujuan aturan kesempurnaan yang dikehendaki-Nya.
Aturan Kesempurnaan Dzahir dan Bathin
Pada realitasnya manusia terdiri dari dua bentuk dalam dirinya yaitu dzahir dan bathinnya. Kaum empiris-kapitalis melihat kesempurnaan manusia terbatas pada hal-hal yang bersifat material semata, sebbaliknya kaum idealis lebih mengakui kesempurnaan bathiniyyah. Dalam Islam, kaum wahabi dikenali dengan aliran dhahiriyyah yang menitik beratkan pada kesempurnaan dhohir, sehingga percaturan kehidupan masyarakatnya banyak terkesan kering dari nilai-nilai bathiniyyah. Sebalkiknya sufisme bergerak dititik ekstrem lain yang menghantasrkan pada kesempurnaan bathiniyyah.
Pada dasarnya Islam menolak kedua pengertian ekstreem diatas. Islam memandang aturan dhohirnya sebnantiasa terselip aturan bathiniyyah dan sebaliknya. Seperti yang dicontohkan dalam hukumhukum Isla, misalnya hubungan seksual sepasang suami istri selintas aturannya bersifat dhohir semata. Kebahagian didalamnya seakan merupakan kebahagian dhohir yang tak terkait dengan hal-hal bathin. Namun Islam memandang hubungan intim dengan istri merupakan ibadah yang besar disisi Allah. Sedangkan ibadah terkait erat dengan hubungan bathiniyyah seorang hamba dengan khaliqnya. Sebaliknya aturan puasa dalam Islam sekilas nampak berkaitan dengan hal-hal yang bersifat bathin, namun Islam Islam memandang dengan berpuasa seseorang akan menjadi sehat jasmaninya. Kesehatan yang bersifat dhohir.
Dari kedua contoh diatas dapat disimpulkan atauran Islam yang satu menyentuh dua hal sekaligus, dan tidak dengan aturan yang terpisah. Aturan dhahirnya terdapat dalam ujung jantung bathinnya, dan aturan bathinnya terdapat pada ujung jantung dhohirnya. Selain dhohir dan bathin, kehidupan manusia terkait dengan pekerjaan individu dan sosial. Sebagaimana aturan Islam terkait dengan individu dan sosialnya.
Aturan kesempurnaan Individu dan Sosial
Manusia dalam kehidupannya terkadang menilai perbuatan dirinya ataupun perbuatan manusia lainnya dengan kaca pandang individual yang berangkat dari dalam dirinya. Adakalanya penilaian berangkat dari pandangan sosial. Dengan dua pandangan ini berbagai persoalan tidak dapat lagi dipertemukan kecuali, bertemu akhirnya saling menghargai pendapat yang berbeda dengan membiarkan permasalahan tanpa solusi. Belum lagi bila kedua titik pandang bertitik tolak dari disiplin keilmuan yang beragam. Permasalan tampak semakin rumit. Senantiasa tampak para ilmuwan yang berhasil dikemudian hari adalah mereka yang mampu memaparkan data-data permasalahan tanpa solusi. Bagaimana dengan Islam ? adakah Islam sekadar penyampaian persoalan tanpa solusi ?
Dengan melihat aturan yang terdapat dalam Islam sebagaimana dicontohkan oleh Imam Husein as. yang meninggalkan haji pada musim haji dan berangkat jihad. Yang demikian karena keadaan saat itu jihad sekilas tampak merupakan urusan sosial, namun Islam justru menjelaskan jihad al-Husein as. adalah puncak dari ibadah yang tak terbandingkan. Bila Allah memuliakan ahli Badar dengan perbandingan musuh 1.000 orang sedang pihak muslimin 313 orang, maka apa yang dapat dikatakan dengan perlawanan 72 pasukan al-Husein dengan 10.000 bala tentara iblis berwajah manusia. Dalam pada itu Islam memandang pekerjaan sosial terkandung padanya nilai individu yang paling dalam.
Sebaliknya ketika Allah memerintahkan sholat pada manusia dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya shalat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar” (QS : al-Ankabut 29 : 45)
Sholat selintas tampak menyangkut urusan yang semata berkaitan dengan urusan individual semata, namun Islam memandangnya memiliki dampak sosial. Dari itu syare’at Islam bukanlah aturan kesempurnaan yang terpisahkan, tetapi aturan kesempurnaan yang satu didalamnya tercakup nilai individual dan nilai sosial, dengan satu aturan “Islam”.
Awal atau Akhir
Setelah aturan kesempurnaan Islam menyangkut dhohir dan bathin, individu dan sosial dengan segala aturan, adakah aturan tersebut bersifat awal atau akhir? Pengertian akhir adalah, jika seseorang sudah sekali melakukan sholat berarti telah sampai pada pada tujuan kesempurnaan tersebut, yang mana sholat tak lagi diperlukan lagi baginya. Jelas “tidak”, sehingga dapat dikatakan hal tersebut merupakan awal dalam perjalanan manusia mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan “segala sesuatu membutuhkan Allah”, dan kebbutuhan mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi senantiasa terdapat dalam ketaatan pada aturan syare’at Islam ini.
Aturan Islam dalam perwujudan kesempurnaan manusia tidak utopis, sekedar keindahan yang dibenak tanpa dapat diaktualisasi. Dalam pada itu manusia mambutuhkan selain aturan, adalah wujud manusia puncak kesempurnaan yang dapat ditauladani dalam kehidupannya sehari-hari.
Tauladan kesempurnan
Firman Allah :
” Dan dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan bagi ummat manusia” (QS : al-Ahzab 33 : 21)
Ketauladanan rasulullah telah dinyatakan oleh al-Qur’an, namun sepeninggal beliau ketauladanan sebagaimana beliau tetap dibutuhkan dalam pengaktualan Islam sesuai dengan yang dijanjikan dalam firman-Nya :
” Dan dalam setiap kaum terdapat pemberi petunjuk” (QS : ar-Ra’ad 13 : 7)
Sang pemberi petunjuk adalah tauladan sebagaimana Rasulullah saww. Yaitu ahli bait beliau saww. Sehingga beliau bersabda pada ahlibait beliau saww. Dihadapan ummatnya :
“Aku berdamai pada mereka yang berdamai pada kalian (ahli bait), Aku berperang pada mereka yang memerangi kalian (ahli bait)”
Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda :
“Berdamai padaku yang berdamai pada kalian (ahli bait), memerangi aku yang memerangi kalian
(ahli bait)”
Karena Rasul ingin menjelaskan falsafah terdalam dari tujuan kesempurnaan penciptaan makhluq Allah SWT.
pemberitahuan Mei 5, 2007
Posted by dzurriyah in Uncategorized.add a comment
di sini situs keagama’an jika kalian ingin menanya , debat , mencari maupun memberi informasi dan lain-lain
pengantar Mei 3, 2007
Posted by dzurriyah in Uncategorized.add a comment
assalamualaykum wr wb
saya sy m.bagir al-hasni ingin memperbaiki ummat
yang semua ini tidak lepas dari ukhuwah islamiyah