dialog yusuf qardawi dengan rafsanjani Mei 7, 2007
Posted by dzurriyah in Uncategorized.trackback
Hari ini pukul 16.30 WIB dialog Qardhawi dan Rafsanjani diputar ulang
Tadi malam, pukul 23.30 waktu Jakarta atau 19.30 waktu Mekkah, atas prakarsa Persatuan Ulama Islam Internasional yang dipimpin oleh Yusuf Qardhawi, dengan mediator stasiun televisi Aljazeera, secara live diadakan dialog antara Ali Akbar Rafsanjani dan Yusuf Qardhawi. Dialog ini akan diulangi lagi hari ini jam 16.30 WIB akan putar ulang. Dialog ini lewat telekonferensi, di mana Rafsanjani di Teheran dan Qardhawi di Doha. Sebagai moderatornya adalah Syaikh Ahmad, pimpinan departemen pemberitaan Aljazeera. Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, dialog ini untuk menghentikan fitnah dan perselisihan antara Syi’ah dan ahli Sunah yang beberapa waktu belakangan ini memanas.
Syaikh Ahmad memberi kesempatan pertama kepada Rafsanjani. Namun, sebelum itu, Syaikh ahmad mengingatkan keduanya untuk tetap berlapang dada untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya tentang masalah Syi’ah dan Sunni sekaligus perselisihan keduanya.
Rafsanjani membuka pembicaraannya dengan mengucapkan:
“Al-Hamdulillah Wassalamu Ala Rasulillah Wa Alihi Wa Shahbihi. A’udzubillahi Minas Syaithanirrajim. Wa’tashimu bihabillahi Jami’an Wala Tafarraqu”.
Setelah itu ia mengucapkan terima kasih, ia kemudian menekankan pentingnya persatuan kaum muslimin dan menegaskan bahwa persatuan merupakan prinsip penting dalam Islam. Hanya persatuan yang dapat membuat Islam maju.
Ia mulai mengurutkan saham Syi’ah dalam mewujudkan persatuan kaum muslimin. Dimulai dari Ayatullah Boroujerdi dan Allamah Muhammad Abduh yang berujung pada dibentuknya Dar at-Taqrib untuk mendekatkan antara mazhab-mazhab yang ada. Usaha itu kemudian dilanjutkan setelah kemenangan revolusi Islam Iran. Imam Khomeini sangat menekankan pentingnya persatuan Islam dan secara serius itu ditindak lanjuti oleh penggantinya Ayatullah Sayyid Ali Khamene’i. Upaya yang telah dilakukan telah banyak menunjukkan hasil.
Banyak ulama Islam, salah satunya adalah Yusuf Qardhawi dan banyak dari ulama Mesir, Tunisia, Maroko, Irak, Arab Saudi, Syiria dan negara-negara Islam lainnya yang ikut dalam konferensi-konferensi Islam. Hasilnya adalah satu sama lain semakin dekat. Semoga hasil-hasil ini bisa bertahan dan langgeng. Saya memohon kepada Allah agar hasil-hasil yang telah ada ini dijaga dan diperkuat”.
Ia menambahkan:
“Hari-hari belakangan ini, kita menghadapi fitnah dan masalah di negara-negara Afghanistan, Lebanon dan Irak. Fitnah yang muncul ini adalah usaha dari musuh Islam. Mereka berusaha untuk menyebarkan fitnah dan perselisihan antara kaum muslimin. Hal ini juga membuat kami sangat khawatir. Karena usaha ini bertujuan untuk melenyapkan usaha ulama dalam rangka mempersatukan kaum muslimin”.
Sekaitan dengan acara ini, Rafsanjani menuturkan:
“Insya Allah dari acara ini, kami ingin menahan usaha penyebaran perselisihan antara Syi’ah dan Sunni. Menurut pengamatan saya, program Timur Tengah Baru yang dicanangkan Amerika telah menemui kegagalan. Bahkan saat ini, masalah yang mereka hadapi lebih besar dan sulit. Tapi mereka tidak putus asa, mereka tetap berusaha untuk mewujudkan tujuan mereka. Dan kali ini lewat penyebaran perselisihan dan pertikaian antara kaum muslimin”. Analisanya demikian tambah Rafsanjani: “Kekalahan Israel atas Lebanon, kemenangan rakyat Palestina dalam pemilihan umum dan semakin menguatnya perjuangan dan penolakan terhadap kekuatan asing di semua negara-negara islam merupakan faktor-faktor yang membuat musuh-musuh Islam mengambil sikap baru. Dan yang mereka pilih adalah menyebarkan perpecahan di kalangan kaum muslimin. Usaha ini dilakukan secara serius. Kita jangan sampai tertipu. Kita adalah anak-anak Islam dan al-Quran. Allah berfirman: “Wa Laa Tanaza’u Fa Tafasyalu Wa Tadzhabu Rihukum” (Janganlah kamu berbantah- bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu). Ini hukum yang jelas. Perintah yang dari Allah agar kita menjaga dan mempertahankan persatuan kita.
Allah juga berfirman: “Innamal Mukminuna Ikhwah” (Sesungguhnya kaum mukminin itu bersaudara). Sungguh, kewajiban ulama menjadi lebih berat. Terutama bila dihadapkan pada masalah perselisihan dan pertikaian yang diusahakan oleh musuh di Irak, Lebanon, Palestina dan Afghanistan. Ditambah lagi dengan problema yang dihadapi oleh Sudan dan Somalia bahkan di seluruh dunia. Ulama bertanggung jawab untuk memberikan solusi terhadap masalah-masalah ini. Dan itu hanya dapat diselesaikan dengan bersatu”.
Sementara itu, Yusuf Qardhawi membuka pembicaraannya dengan mengatakan bahwa acara-acara dialog seperti ini sangat bermanfaat. Terutama buat umat Islam. Ia mengingat kembali perjalanannya ke Iran delapan tahun yang lalu. Ia sempat bertemu dengan Rafsanjani dan masih mengenang hadiah buku tafsir yang ditulis Rafsanjani kepadanya. Ia mengatakan bahwa Syi’ah dan Sunni sama-sama mengucapkan dua kalimat syahadat. Sama-sama melakukan salat menghadap sebuah kiblat. Dengan melihat kesamaan ini, ia menghimbau diperluasnya persatuan Islam dan menentang perselisihan antar keduanya.
Qardhawi mengecam aksi-aksi baik dari Syi’ah maupun Ahli Sunah yang melakukan penghinaan bahkan pengafiran terhadap sahabat Nabi. Dengan tegas, ia meminta kepada ulama Syi’ah dan Sunni untuk menindak tegas aksi-aksi semacam ini. Ia menyebutkan bahwa ada di kalangan Ahli Sunah yang mengafirkan sebagian tokoh Syi’ah dan begitu pula sebaliknya.
Ia menegaskan bahwa tidak ada satupun di kalangan Ahli Sunah yang menghina Ahlul Bait. Dengan nada bertanya ia mengatakan: “Siapa di antara Ahli Sunah yang menghina pemuda penghulu surga dan keluarga Ali bin Abi Thalib? Namun sebaliknya, tidak demikian di Syi’ah. Kami menyaksikan sebagian orang-orang Syi’ah yang menghina para sahabat Nabi. “Di setiap seminar saya senantiasa mengulang-ulangi pernyataan ini”, ujar Qardhawi. Karena sikap itulah, saya banyak dikritik. Bila seminar pendekatan antar mazhab dilakukan tanpa menyebutkan dan menyelesaikan masalah-masalah seperti ini, maka seminar tidak akan menghasilkan apa-apa.
Ia menambahkan: “Para sahabat adalah murid-murid Nabi. Bila kita mencaci mereka sama artinya dengan mencaci gurunya. Allah swt dalam 8 surat dari al-Quran menyebutkan bahwa mereka ini punya kelebihan. Para sahabat inilah yang mengislamkan Iran dan Mesir. Merekalah yang membebaskan mereka dari penyembahan terhadap api”.
Menanggapi pembicaraan Qardhawi, Rafsanjani menyebutkan bahwa, terkadang membicarakan masalah yang seperti ini membuat perselisihan semakin besar. Namun, itu tidak bermakna bahwa ulama Syi’ah di Iran tidak memperhatikan dan membahas masalah-masalah seperti persatuan Islam dan pencacian terhadap sahabat Nabi.
Rafsanjani dengan nada agak menantang meminta kepada Qardhawi untuk menyimak pesan-pesan Rahbar Ayatullah Sayyid ali Khamene’i. Apakah dalam ceramah-ceramahnya ada sedikit gambaran tentang pencacian terhadap sahabat, sehingga itu bisa dinisbatkan kepada Syi’ah?
Rafsanjani menegaskan bahwa Republik Islam Iran meyakini persatuan Islam dan akan tetap berjuang untuk melebarkan dan menyebarkannya di dunia Islam. Ulama dan khatib-khatib Iran senantiasa menekankan persatuan Islam dan khotbahnya dimulai dengan mengucapkan salam kepada Nabi dan sahabat-sahabat yang senantiasa membela beliau. Ini menunjukkan akidah kami atas persatuan Islam”.
Ia melanjutkan:
“Persatuan adalah topik paling penting dalam kondisi kekinian kaum muslimin. Dengan persatuan, usaha yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menguasai dunia Islam tidak akan berhasil. Saat ini, ada 60 negara Islam di dunia yang bercerai berai. Negara-negara yang posisi geografisnya sangat strategis. Bila persatuan 60 negara ini dapat diwujudkan, niscaya akan memunculkan kekuatan baru yang dahsyat”.
Melanjutkan dialog, Qardhawi menyampaikan kepada dunia Islam untuk membela Iran. Benar, kita punya banyak masalah dengan Iran yang berhubungan dengan masalah mazhab. Namun, kami tidak akan mengizinkan Amerika, musuh Islam, untuk menyerang Iran. Dalam masalah ini, kami bersama Iran. Iran berhak untuk memiliki reaktor nuklir untuk perdamaian.
Berpindah pada masalah Irak, Qardhawi mengecam pembunuhan kaum muslimin di Irak. Begitu juga ia mengecam perusakan kuburan Imam orang-orang Syi’ah. Ia juga mengecam pembunuhan Ayatullah Baqir al-Hakim. Dengan nada agak terheran-heran ia mengatakan bahwa saya bingung, kelompok-kelompok seperti ini dilindungi oleh siapa?
Qardhawi mengingatkan bahwa Iran memiliki pengaruh di Irak. Ia meminta Iran secara serius turut campur untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di irak. Qardhawi meminta kepada kaum muslimin untuk merapatkan barisannya, agar sumber daya manusia yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk memberikan solusi dalam masalah ekonomi, sains dan lain-lain. Dengan demikian, kaum muslimin dapat lebih maju dan keluar dari lingkaran dunia ketiga.
Dalam dialog ini, Yusuf Qardhawi mengklaim beberapa masalah yang terkait dengan Syi’ah. Ia mengklaim bahwa Syi’ah berusaha untuk menjadikan orang-orang Sunni menjadi pengikut Syi’ah. Pada hal Ahli Sunah tidak melakukan aksi-aksi yang semacam itu. Ia juga melakukan kritik terhadap kondisi minoritas Ahli Sunah di Iran.
Rafsanjani mengatakan bahwa Iran tidak punya keinginan untuk ikut campur tangan dalam masalah dalam negeri Irak. Ia berkata kepada Qardhawi bahwa dalam setiap aksi-aksi yang terjadi di Irak tidak akan Anda dapatkan Iran ikut terlibat di dalamnya. Yang terjadi justru sebaliknya. Anda dapat melihat keterlibatan sebagian negara-negara Arab. Namun, itu tidak berarti kami tidak menentang aksi-aksi teroris yang terjadi di Irak. Menurut kami, aksi teroris termasuk dosa besar. Dan tidak boleh darah seorang muslim atau non muslim ditumpahkan begitu saja. Rafsanjani menambahkan bahwa Iran tidak pernah mengirim pasukan ke Irak sebagaimana klaim Qardhawi. Rafsanjani akhirnya mengingatkan Qardhawi agar membaca berita dengan benar mengenai kebijakan politik luar negeri Iran sekaitan dengan masalah Irak. Iran menginginkan persatuan dan stabilitas Irak.
Mengenai isu syi’ahisai tidak dijawab oleh Rafsanjani karena itu akan dapat melebarkan perbedaan yang telah ada.[infosyiah
Komentar»
No comments yet — be the first.