jump to navigation

kedudukan ahlulbait Mei 6, 2007

Posted by dzurriyah in Uncategorized.
add a comment

sekarang di indonesia banyak yang menolak,mendemo,menyerang islam syiah padahal mereka damai dan karena itu banyak yang masuk syiah orangn syiah tidak salah dan dalilnya masuk akal

Sabda Rasul :

“Aku berdamai pada mereka yang berdamai pada kalian (ahli bait), Aku berperang pada mereka yang memerangi kalian (ahli bait)”

Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda :

“Berdamai padaku yang berdamai pada kalian (ahli bait), memerangi aku yang memerangi kalian (ahli bait)”

Kedua hadits diatas menggambarkan rasulullah secara demonstratif menampakkan sikap tegasnya dalam membela ahli bait beliau as. Terkadang pembelaannya itu dengan mewajibkan orang-orang yang mencintai beliau saww dengan kecintaan pada ahli bait as. Suatu hal yang mengisyaratkan pada ummat yang hidup dimasa beliau saww. Adapun sepeninggal beliau, ummat harus merujuk kepada ahli bait as. Dalam hadits kedua rasulullah memastikan bagi siapa saja yang hidup sepeninggalnya dan yang mencintai ahli bait as. Akan dicintai beliau saww.

Kedekatan Rasulullah saww. dengan ahli bait as. Kemudian oleh sebagian kaum muslimin dipandang sebagai hubungan emosional kekeluargaan. Namun kedangkalan pandangan ini terbantah oleh al-Qur’an yang dengan tegas menyebutkan seluruh sikap dan tindakan serta ucapan Rasul senantiasa dituntun oleh wahyu, bukan dengan emosi. Sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan tiada perkataannya berdasarkan hawa nafsunya melainkan wahyu yang disampaikan”

Hingga jelas hikmah yang tercermin dari kedua sabda rasul tentang ahli bait as. Nantinya. Pada dasarnya rasul telah mensinyalir sikap ummat terhadap ahli bait as. dengan sikap negatif, yang akan berakibat hilangnya tujuan kehidupan manusia itu sendiri. Dalam pada itu Rasul hendak menjelaskan falsafah terdalam dari tujuan penciptaan oleh Allah SWT. Yakni mencintai ahli bait beliau saww. Firman Allah SWT:

“Katakanlah (wahai Muhammad) aku tiada meminta upah (atas jerih payah da’wahku) kecuali kecintaan pada keluarga (ahli bait)” (QS : 42 ; 23)

Hukum Kausalitas (Hukum sebab-akibat)

Realitas kehidupan menunjukkan akal manusia senantiasa terdorong untuk memahami sebab dari setiap fenomena alam ini. Para filosof dan ahli logika membagi sebab dari setiap kejadian menjadi empat. Dengan melalui contoh Ibrah karya tulis yang muncul dari sebab-sebab tertentu.

Pertama, akal memahami karya tulis tersebut muncul oleh sebab adanya penulis – sebab demikian, disebut dengan sebab pelaku. Akal senantiasa menolak bila karya tulkis muncul tanpa ada yang menuliskannya.

Kedua, dengan isi dan sistematika tulisan, akal memahami kedalaman pengetahuan Penulis yang sebelum menulis karya tulisnya muncul lebih dahulupada benak penulis. Sebab demikian disebut dengan sebab image atau sebab gambaran. Yaitu Ibrah dalam benak penulis yang dengannya si penulis disebut memiliki pengetahuan. Akal menolak, Penulis tidak mengetahui karya tulisnya yang sarat dengan pengetahuan ilmiah.

Ketiga, Karya tulis tersebut menampakkan tujuan si penulis yang disebut dengan sebab tujuan penulisan. Akal menolak karya tulis yang penuh dengan nilali-nilai ilmiah itu, sibuat tanpa tujuan dari si penulis. Kelaziman dari sebab ketiga ini yang akan menjadi bahan kajian dalam bab kedua tulisan ini. (lihat ibrah : merenung).

Keempat, Dengan adanya kertas, pena dan tinta maka terpenuhilah persyaratan sebab munculnya karya tulis tersebut, yang demikian disebut dengan sebab materi. Akal menolak, tanpa adanya wujud-wujud materi ini tulisan bisa muncul, melalui sebab materi ini akal manusia dapat mengerti sebab-sebab fenomena (kejadian).

Keempat sebab diatas – pelaku, image, tujuan dan materi – yang memunculkan akibat dapat diberlakukan dalam setiap fenomena/ kejadian alam ini. Sifatnya yang senantiasa unik dengan kaidah yang sama disebut dengan hukum kausalitas (sebab-akibat) atau sunatullah.

Firman Allah :

“Dan tiada engkau dapati dalam sunatullah terjadi perubahan” (QS : 33 : 62)

Dengan demikian sunatullah ini memberikan penghormatan pada akal manusia sehingga dapat difikirkan, dimengerti dan dimanfaatkan memberi dalam kehidupan. Jika tidak, niscaya manusia tidak dapat mengerti apapun dan tentunya tidak dapat berbuat sesuatu apalagi mengambil manfaat dari kehidupan. Karenanya sunatullah adalah perwujudan karunia ilahiyah yang besar dalam kehidupan ini, bagi yang mampu memanfaatkan.

Tujuan Penciptaan dan Determinisme

Pada sebab ketiga diatas, telah menampakkan ketidak mungkinan wujud tanpa tujuan, namun guna mendapatkan ketegasan Allah berfirman :

“Dan dalam segala sesuatu terdapat sebab-sebab dan ikutilah sebab-sebab tersebut” (QS: 18 : 85)

Bila karya tulis telah menunjukkan adanya tujuan penulisan – bagaimana dengan penciptaan alam semesta ini, adakah hal ini juga menghantarkan pengenalan pada tujuan Allah SWT? Sebagaimana contoh yang tampak pada pertumbuhan biji menjadi tunas, tunas menjadi pohon dan puncaknya pohon tersebut berbuah. Fenomena yang menampakkan tujuan yang kian kuat dan sempurna. Juga pada pertumbuhan janin dalam rahim seorang ibu menampakkan keadaan yang berproses dari keadaan lemah menjadi kuat da sempurna – seluruhnya menampakkan tujuan Allah dalam penciptaan-Nya. Melalui merenung seseorang dapat merasakan keadaan jiwa, sebagaimana diisyaratkan dalam al-Qur’an:

Allah berfirman :

“Dan didalam penciptaan langit dan bumi, perubahan siang dan malam terdapat tanda-tanda (ibrah) bagi ulil albaab, yaitu mereka yang merenungkan penciptaan Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Mereka berkata “Subhanallah” Maha Suci Allah, tiada Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maka jauhkanlah kami dari siksa neraka” (QS: 3:190-191)

Tujuan Kesempurnaan

Berbagai kemungkinan dari setiap tujuan penciptaan ada dua yaitu : kesempurnaan atau kehancuran. Kedua tujuan ini bersifat mungkin. Kemungkinan menjadi mustahil jika jelas pada karakter dan sifat-sifat pelakunya, dalam hal ini Allah SWT. Menghancurkan atau melemahkan hanya terjadi pada mereka yang bersifat takut. Takut akan akibat perubahan masa dan kekuasaan, takut atas pesaing, takut lawan yang merongrong kekuasaannya. Kemungkinan tujuan menghancurkan itu muncul dari keinginan pengakuan atau justifikasi terhadap eksistensi Diri-Nya. Hal yang terbantah karena Dia tidak membutuhkan segala sesuatu tetapi segala sesuatulah yang membuthkan-Nya. Sehingga untuk justifikasi semacam ini mustahil bagi-Nya. Hal itu dalam studi kemungkinan tujuan menghancurkan atau menyempurnakan. Kemungkinan lain karena terdapat sifat buruk yang tak jelas kehendak-Nya. Maha Suci Allah dari memiliki sifat buruk sehingga tidak terdapat sedikitpun tanda bagi-Nya melakukan praktek tersebut dalam ciptaan-Nya. Dan kemungkinan terakhir adalah tujuan kehancuran disebabkan oleh ketersinggungan akan muncul karena dua alasan yang tak dapat diterapkan dan diterima akal manapun. Yaitu tersinggung oleh siapa dan akibat apa Dia tersinggung sehingga membuat dendam terhadap makhluk-Nya sendiri. Dari keempat kemungkinan tujuan menghancurkan :

Saingan
Justifikasi / pengakuan
Memiliki sifat buruk
Tersinggung

Tidak mendapatkan posisi pembenarannya dari tujuan penciptaan-Nya. Sehingga satu alternatif yang pasti dan menjadi tujuan Dia mencipta adalah, penyempurnaan.

Bagi siapa tujuan kesempurnaan ditujukan

Bagi siapa kesempurnaan itu dimaksudkan. Sedangkan selain Dia adalah makhluq-Nya. Terdapat berbagai kemungkinan sbb:

Kesempurnaan itu ditujukan bagi Diri-Nya

Seseorang akan menjadi sempurna jika tampak padanya pekerjaan kesempurnaan yang dillakukannya, dengan alasan itu disebutdirinya sempurna. Pekerjaan sempurnalah yang telah menyempurnakan manusia. Adakah bagi Allah juga demikian, pekerjaan menciptakan makhluknya adalah dengan tujuan kesempurnaan menjadikan Dia yang sebelumnya tidak sempurna menjadi sempurna oleh hasil pekerjaan-Nya sendiri. Pemikiran demikian menampakkan Dia membutuhkan sesuatu yang dalam hal ini adalah pekerjaan-Nya sendiri. Maha Suci Allah dari membutuhkkan segala sesuatu. Dia yang Maha Sempurna yang kesempurnaan-Nya tidak membutuhkan kesempurnaan lagi. Kesempurnaan yang tidak dapat dibandingkan oleh kesempurnaan apapun. Selain Dia – butuh penyempurnaan. Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan pada-Nya.

Kesempurnaan bersama, bagi Dia dan makhluq-Nya

Bila kesempurnaan ditujukan bagi keuntungan bersama, hal inipun tetap terbantah oleh argumentasi rasional sebagaimana dalam kemungkinan pertama. Hal ini muncul oleh pikiran manusia yang menghubungkan hubungannya dengan Tuhan sebagaimana hubungan sosial. Disadari atau tidak pandangan demikian muncul pada mereka yang dikotomis terhadap nilai-nilai individu dan nilai-nilai sosial, sehingga tak jarang bagi seseorang merasa telah memberikan kepuasan bagi Allah dengan amal ibadah dan sosialnya dihadapan Allah. Yang demikian itu karena memandang Allah perlu (butuh), walau sedikit darinya. Juga dapat timbul dalam diri yang memandang tugas-tugas agama adalah beban yang timbul dari kepentingan Tuhan di bumi ini. Dan banyak lagi yang dapat menjelaskan praktek jiwa kerdil terhadap amalan manusia seperti ini.

Kesempurnaan semata-mata untuk makhluk-Nya

Akhir yang dapat dimungkinkan adalah tujuan dari kesempurnaan penciptaan Allah SWT semata-mata bagi makhluq-Nya. Dimana dalam aktualisasinya seseorang beribadah pada Allah bukan untuk Allah dan tidak sebagian kecilpun Allah diuntungkan dengan ibadah yang mereka lakukan, tetapi keuntungan didapat bagi manusia itu sendiri. Juga halnya dengan pengingkaran tidak sedikitpun telah menjadikan Allah SWT rugi atas pengingkaran manusia itu sendiri.

Kebebasan dan Keterpaksaan

Dalam mazhab Asy’ari ketika menjelaskan aturan kesempurnaan ini tidak mendukung kesimpulan diatas, sehingga aqidahnya menampakkan penyimpangan terhadap tujuan kesempurnaan bagi makhluq Allah SWT. Aqidah yang mengilhami pandangan umumnya ahlussunnah wal jama’ah dilandasi oleh hadits yang terdapat dalam shahih Bukhari IV hadits ke 1775 hal : 80 sebagai berikut :

” Dari Abdullah ra. Katanya: Bercerita kepada kami rasulullah saw. Seorang yang benar dan dibenarkan. Beliau bersabda “Seseorang kamu ditempatkan selama empat puluh hari dalam peranakan ibu (berupa benda cair) kemudian menjadi segumpal darah, selama itu pula, dan segumpal daging, selama itu pula. Lalu Tuhan melalui malaikat menuliskan rezekinya, ajalnya, malang (celaka) dan mujur (bahagia), kemudian dihembuskan roh (jiwa) kedalamnya. Maka demi Allah sesungguhnya seseorang mengerjakan pekerjaan ahli neraka, sehingga antara dia dan neraka hanya berjarak sehasta atau sedepa. Lalu didahului oleh kitab (nasib)-nya, maka dikerjakannya pekerjaan ahli surga dan karenanya ia masuk surga. Sesungguhnya seseorang mengerjakan pekerjaan ahli surga, sehingga sehingga antara dia dan surga hanya berjarak sehasta atau sedepa. Lalu didahului oleh kitab (nasib)-nya, maka dikerjakannya pekerjaan ahli neraka dan karenanya ia masuk neraka”.

Asy’ari dalam pandangannya tampak meniadakan nilai tertinggi dari karunia Allah pada manusia yaitu ikhtiar (kehendak bebas) dalam diri manusia. Pekerjaan apapun yang dilakukan manusia tidak lagi berarti. Yang secara tidak langsung Asy’ari mengatakan kebebasan Allah untuk melakukan kehendak telah memasung manusia seperti robot yang tidak bernilai. Robot dengan pengertian, karena rezki, ajal, dan nasibnya telah dalam ketetapan baku yang tak berubah, sehingga do’a-do’a dipandang sebagai upaya mempengaruhi Allah atas ketetapan yang telah dibuat-Nya.

Pandangan Asy’ari terbantah dengan sendirinya dengan seorang mursal yang berkata saya mursal karena menta’ati ketetapan Allah yang diberlakukan pada dirinya. Hukum-hukumpun menjadi mandul dan sorga neraka menjadi kehilangan nilai – serta anjuran berbuat baik pada manusia tak dapat diterapkan pada pemikiran ini.

Bila sedilkit diperhatikan untuk mengenali memotivasi dari pendiriannya, tampak dengan kehendak mempertahankan kekuasaan tiran dimasa itu guna mendapat justifikasi agama dalam menutupi sikap lalimnya dihadapan mereka yang lemah. Aqidah yang menguntungkan para tiran untuk menindas. Mereka seolah berkata “kekuasaan ini adalah nasib mujur yang diberikan Allah padanya dan penderitaan rakyat adalah nasib burujk yang harus diterima karena ketetapannya juga”. Allah dalam pandangan Asy’ari tidak lagi bersih – tangan allah berlumuran dosa dengan membela penguasa yang menindas. Maha Suci Allah dari semua itu. Dia yang lebih dikenal dengan Tuhan yang melindungi mereka yang mustadh’’fin (orang-orang tertindas).

Aqidah Asy’ari ini yang kemudian dirumuskan dalam rukun Iman keenam yang sangat terkenal dengan:

“Dan segala baik dan buruk datang dari sisi Allah”

Dengan sebuah ayat seluruhnya pandangan Asy’ari telah terbantah – kejahatan menjadi tampak nyata posisinya – dan hancur seluruh kebathilan ucapan-ucapan bathilnya.

Firman Allah :

“Dan apa yang baik menimpamu datang dari sisi Allah SWT. Dan apa yang buruk menimpamu datang dari dirimu sendiri” (QS: 4:47)

Sementara kaum mu’tazilah dengan kontroversial menolak pandangan Asy’ari yang telah berposisi dalam titik ekstrem lainnya. Kaum mu’tazilah ini meyakini kebebasan manusia berikhtiar. Namun dalam pada itu mereka secara tidak langsung menolak pentadbiran (pengelolaan Allah SWT). Dengan anggapan bahwa manusia yang Allah ciptakan telah diberi sarana, yang dengan itu Allah tidak lagi memerankan apapun dalam kebaikan dan keburukan yang dikerjakan manusia. Secara sadara atau tidak, aliran ini menjadikan akal mereka sebagai tuhanya sendiri, dengan menganggap – terdapat posisi (tempat dan waktu) dimana Allah tidak sedikitpun berperan kecuali pada awalnya saja dan tidak kemudian. Maha suci Allah dari sikap yang tidak peduli seperti itu.

Mazhab Ahli Bait

Sabda Imam Ali as.:

“Segala puji bagi Allah yang keadaan-Nya yang satu tidak mendahului keadaan-Nya yang lain, maka tiadalah Dia (menjadi) yang awal sebelum Dia menjadi yang akhir, atau yang dzahir sebelum yang bathin. Semua yang disebut satu selain Dia adalah sedikit. Semua yang disebut mulia selain Dia adalah hina. Semua yang kuat selain Dia adalah lemah. Semua pemilik selain Dia adalah termiliki. Semua yang berkuasa selain Dia adakalanya berkuasa adakalanya tak berdaya. Semua yang mendengar selain Dia adalah tuli terhadap suara-suara yang lembut, amat keras, atau amat jauh dari tempatnya. Semua yang melihat selain Dia adalah buta terhadap warna-warna, amat lemah, ataupun benda-benda lembut. Semua yang dzahir selain Dia adalah bathin dan semua yang bathin selain Dia tidak mungkin bersifat dzahir. Tidak diciptakan-Nya makhluq-Nya dengan tujuan memperteguh kekuasaan atau karena ketakutan akan akibat-akibat (pergantian) zaman atau demi membantu melawan tandingan yang memerangi, atau seluruh yang berbangga akan kekayaan, atau musuh menantang dengan besarnya kekuatan. Mereka semua adalah makhluk-makhluk-Nya yang diperhambakan atau budak-budak-Nya yang hina dina. Tiada Ia mendiami sesuatu sehingga dapat disebut Ia ada disana, atau Ia berpisah dari sesuatu sehingga dapat disebut Ia tak ada disana. Tiada menyulitkan bagi-Nya penciptaan yang dimulainya ataupun pengaturan apa saja yang telah selesai dibuat-Nya. Tiada pernah Ia diliputi ketidakmampuan dalam segala yang diciptakan-Nya dan tidak pernah Ia memasuki kebimbangan tentang apa saja yang dilaksanakan-Nya. Semua itu bersumber pada ketetapan-Nya yang amat teliti. Pengetahuan-Nya yang amat tepat dan urusan yang terikat kuat. Dialah yang didambakan oleh setiap bencana yang mencekam, dan dari Dialah diharapkan datangnya segala kenikmatan”. (Nahjul Balaghah I : 64)

Ucapan Imam Ali as. yang mengilhami pandangan mazhab Ahli Bait dengan perbuatan baik itu muncul atas keterpaduan ikhtiar manusia dan pertolongan Allah sebagai penentu kebaikan. Sedangkan hilangnya pertolongan Allah pada diri manusia yang menyebabkan perbuatan manusia itu buruk (hilangnya nilai ataupun esensialnya). Dalam menjelaskan hal itu, Allah tetap dalam posisi yang muutlak kebebasan-Nya, dan ikhtiar manusiapun memiliki nilai sebagai karunia ilahiyyah yang diberikan pada manusia. Dalam pada itu doa, aturan, hukum serta muamalah manusia memiliki eksistensi yang dihormati dalam kehidupan. Dalam pada itu Allah tetap mengelola ummat manusia, mengawasinya dan menolongnya, yang keseluruhan perbuatan Allah tidak membuat Dia menjadi terikat ataupun tergantung.

Firman Allah :

“Dan berbuat baiklah kalian sebagaimana Allah telah berbuat baik pada kalian”
(QS : al-Qashosh 28 : 77)

Allah adalah contoh utama dalam melakukan setiap perbuatan baik-Nya. Dari ucapan Imam Ali as. ” Semua yang dzahir selain Dia adalah bathin dan semua yang bathin selain Dia tidak mungkin bersifat dzahir”. Menampakan tujuan aturan kesempurnaan yang dikehendaki-Nya.

Aturan Kesempurnaan Dzahir dan Bathin

Pada realitasnya manusia terdiri dari dua bentuk dalam dirinya yaitu dzahir dan bathinnya. Kaum empiris-kapitalis melihat kesempurnaan manusia terbatas pada hal-hal yang bersifat material semata, sebbaliknya kaum idealis lebih mengakui kesempurnaan bathiniyyah. Dalam Islam, kaum wahabi dikenali dengan aliran dhahiriyyah yang menitik beratkan pada kesempurnaan dhohir, sehingga percaturan kehidupan masyarakatnya banyak terkesan kering dari nilai-nilai bathiniyyah. Sebalkiknya sufisme bergerak dititik ekstrem lain yang menghantasrkan pada kesempurnaan bathiniyyah.

Pada dasarnya Islam menolak kedua pengertian ekstreem diatas. Islam memandang aturan dhohirnya sebnantiasa terselip aturan bathiniyyah dan sebaliknya. Seperti yang dicontohkan dalam hukumhukum Isla, misalnya hubungan seksual sepasang suami istri selintas aturannya bersifat dhohir semata. Kebahagian didalamnya seakan merupakan kebahagian dhohir yang tak terkait dengan hal-hal bathin. Namun Islam memandang hubungan intim dengan istri merupakan ibadah yang besar disisi Allah. Sedangkan ibadah terkait erat dengan hubungan bathiniyyah seorang hamba dengan khaliqnya. Sebaliknya aturan puasa dalam Islam sekilas nampak berkaitan dengan hal-hal yang bersifat bathin, namun Islam Islam memandang dengan berpuasa seseorang akan menjadi sehat jasmaninya. Kesehatan yang bersifat dhohir.

Dari kedua contoh diatas dapat disimpulkan atauran Islam yang satu menyentuh dua hal sekaligus, dan tidak dengan aturan yang terpisah. Aturan dhahirnya terdapat dalam ujung jantung bathinnya, dan aturan bathinnya terdapat pada ujung jantung dhohirnya. Selain dhohir dan bathin, kehidupan manusia terkait dengan pekerjaan individu dan sosial. Sebagaimana aturan Islam terkait dengan individu dan sosialnya.

Aturan kesempurnaan Individu dan Sosial

Manusia dalam kehidupannya terkadang menilai perbuatan dirinya ataupun perbuatan manusia lainnya dengan kaca pandang individual yang berangkat dari dalam dirinya. Adakalanya penilaian berangkat dari pandangan sosial. Dengan dua pandangan ini berbagai persoalan tidak dapat lagi dipertemukan kecuali, bertemu akhirnya saling menghargai pendapat yang berbeda dengan membiarkan permasalahan tanpa solusi. Belum lagi bila kedua titik pandang bertitik tolak dari disiplin keilmuan yang beragam. Permasalan tampak semakin rumit. Senantiasa tampak para ilmuwan yang berhasil dikemudian hari adalah mereka yang mampu memaparkan data-data permasalahan tanpa solusi. Bagaimana dengan Islam ? adakah Islam sekadar penyampaian persoalan tanpa solusi ?

Dengan melihat aturan yang terdapat dalam Islam sebagaimana dicontohkan oleh Imam Husein as. yang meninggalkan haji pada musim haji dan berangkat jihad. Yang demikian karena keadaan saat itu jihad sekilas tampak merupakan urusan sosial, namun Islam justru menjelaskan jihad al-Husein as. adalah puncak dari ibadah yang tak terbandingkan. Bila Allah memuliakan ahli Badar dengan perbandingan musuh 1.000 orang sedang pihak muslimin 313 orang, maka apa yang dapat dikatakan dengan perlawanan 72 pasukan al-Husein dengan 10.000 bala tentara iblis berwajah manusia. Dalam pada itu Islam memandang pekerjaan sosial terkandung padanya nilai individu yang paling dalam.

Sebaliknya ketika Allah memerintahkan sholat pada manusia dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya shalat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar” (QS : al-Ankabut 29 : 45)

Sholat selintas tampak menyangkut urusan yang semata berkaitan dengan urusan individual semata, namun Islam memandangnya memiliki dampak sosial. Dari itu syare’at Islam bukanlah aturan kesempurnaan yang terpisahkan, tetapi aturan kesempurnaan yang satu didalamnya tercakup nilai individual dan nilai sosial, dengan satu aturan “Islam”.

Awal atau Akhir

Setelah aturan kesempurnaan Islam menyangkut dhohir dan bathin, individu dan sosial dengan segala aturan, adakah aturan tersebut bersifat awal atau akhir? Pengertian akhir adalah, jika seseorang sudah sekali melakukan sholat berarti telah sampai pada pada tujuan kesempurnaan tersebut, yang mana sholat tak lagi diperlukan lagi baginya. Jelas “tidak”, sehingga dapat dikatakan hal tersebut merupakan awal dalam perjalanan manusia mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan “segala sesuatu membutuhkan Allah”, dan kebbutuhan mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi senantiasa terdapat dalam ketaatan pada aturan syare’at Islam ini.

Aturan Islam dalam perwujudan kesempurnaan manusia tidak utopis, sekedar keindahan yang dibenak tanpa dapat diaktualisasi. Dalam pada itu manusia mambutuhkan selain aturan, adalah wujud manusia puncak kesempurnaan yang dapat ditauladani dalam kehidupannya sehari-hari.

Tauladan kesempurnan

Firman Allah :

” Dan dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan bagi ummat manusia” (QS : al-Ahzab 33 : 21)

Ketauladanan rasulullah telah dinyatakan oleh al-Qur’an, namun sepeninggal beliau ketauladanan sebagaimana beliau tetap dibutuhkan dalam pengaktualan Islam sesuai dengan yang dijanjikan dalam firman-Nya :

” Dan dalam setiap kaum terdapat pemberi petunjuk” (QS : ar-Ra’ad 13 : 7)

Sang pemberi petunjuk adalah tauladan sebagaimana Rasulullah saww. Yaitu ahli bait beliau saww. Sehingga beliau bersabda pada ahlibait beliau saww. Dihadapan ummatnya :

“Aku berdamai pada mereka yang berdamai pada kalian (ahli bait), Aku berperang pada mereka yang memerangi kalian (ahli bait)”

Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda :

“Berdamai padaku yang berdamai pada kalian (ahli bait), memerangi aku yang memerangi kalian
(ahli bait)”

Karena Rasul ingin menjelaskan falsafah terdalam dari tujuan kesempurnaan penciptaan makhluq Allah SWT.